
Mapalaska.or.id- Mahasiswa Pencinta Alam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Mapalaska) lakukan eco life style seminar sebagai langkah awal dalam mewujudkan lingkungan bebas sampah. Kegiatan yang mengusung tema “Eco Lifesyle seminar : Live it, Love it, Zero it” ini mengundang narasumber berkompeten Fatimatuz Zahrati, Alumni Belajar Zero Waste Indonesia yang dipantik oleh Eggit, Sahabat Lingkungan (Shalink) Walhi. Kegiatan ini dilakukan di Convention Hall (CH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Senin (2/12/2024).
Berangkat dari keresahan mengenai permasalahan sampah yang tidak kunjung usai khususnya di daerah Yogyakarta yang belum menemukan solusi alternatif sebagai upaya pengurangan sampah. Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan yang dilakukan tentu juga menimbulkan masalah baru bagi lingkungan mulai dari Penumpukan Sampah hingga adanya polusi udara, tentunya perlu adanya edukasi mengenai pengelolaan sampah khususnya dalam penerapan gaya hidup.
Fatimatuz Zahrati, Alumni Belajar Zero Waste Indonesia, menunjukan bahwa salah satu jenis sampah yang cukup banyak terletak di sampah makanan rumah tangga. Menurut data dari United National Environment Programme, Jumlah sampah makanan rumah tangga negara-negara di Asia Tenggara tahun 2023 paling banyak berada di Negara Indonesia dengan jumlah 14.728.364 kemudia disusul oleh negara Vietnam yang hanya mencapai sekitar 7.079.811.
Salah satu upaya untuk mengurangi jumlah sampah yaitu melalui penerapan gaya hidup ramah lingkungan. Gaya hidup ramah lingkungan merupakan pola hidup yang berfokus pada pelestarian lingkungan dengan mengedepankan lingkungan yang berkelanjutan. Penerapan gaya hidup ramah lingkungan dapat dilakukan melalui Recyclearcy berupa Prevention, Re-use, Recycling, Recovery, dan Disposal.
“Penerapan gaya hidup ramah lingkungan selain dapat dilakukan melalui Recyclearcy, juga dapat dilakukan melalui 3AH yaitu Cegah; Mencegah dengan mengurangi pembelian barang yang tidak terlalu penting, Pilah; Memilah sampah sesuai jenisnya, dan Olah; Mengolah sampah menjadi barang yang memiliki nilai guna” Pungkas Fatimatuz Zahrati
Penerapan gaya hidup ramah lingkungan ini tentu semuanya dapat mengambil peran didalamnya khususnya di lingkungan kampus peran civitas akademik juga dibutuhkan mulai dari pembuatan kebijakan kampus yang ramah lingkungan, membangun fasilitas yang ramah lingkungan, membuat program daur ulang, hingga mengadakan pelatihan juga penting untuk dilakukan. Selain itu mahasiswa juga dapat mengikuti komunitas yang fokus pada lingkungan, Mengurangi konsumsi single-us, serta menggunakan barang yang dapat digunakan kembali
Dengan mengangkat konsep seminar ramah lingkungan melalui pemilihan konsumsi, peralatan, maupun narasumber berkompeten, semoga dapat menjadi pemantik dan langkah awal bagi peserta dalam penerapan gaya hidup ramah lingkungan yang secara tidak langsung akan menciptakan kebiasaan yang dapat mengurangi jumlah penggunaan sampah plastik.